Arfan Sabran tidak tergesa-gesa dalam membuat film dokumenter: bisa selesai dalam 6 bulan, ada juga yang masih berlangsung sejak dimulai 4 tahun yang lalu. Sabar, fokus dan respek pada subjek. Cerita berkisar isu lingkungan, orang-orang yang inspiratif, tapi terutama, ia mengangkat isu orang-orang yang termajinalkan.
Arfan, sineas dari Timur Indonesia, Makassar, mengawali debutnya dengan film dokumenter "Suster Apung" yang pada tahun 2006 meraih Eagle Award.
Tahun 2022, Arfan bersama tim nya berhasil meraih Excellence Roughcut Pitch di DMZ International Film Festival di Korea Selatan. Pada tahun yang sama film “Ininnawa: an island calling” Piala Citra Film Indonesia juga diraihnya. Film ini digarap selama 12 tahun dan merupakan kelanjutan dari "Suster Apung".
———————————————
Arfan Sabran is not in a hurry to make a documentary; it can be finished in six months, and some are still ongoing since they started four years ago. Patience, focus, and respect for the subject. The story revolves around environmental issues, inspiring people, but especially raising the issue of marginalized people.
Arfan, a filmmaker from Makassar, Eastern Indonesia, made his debut with the documentary film "Suster Apung" which won the Eagle Award in 2006. In 2022, Arfan and his team won the Excellence Roughcut Pitch at the DMZ International Film Festival in South Korea.
In the same year, the film "Ininnawa: an island calling" won the Indonesian Film Citra Award. This film was worked on for 12 years and is a continuation of 'Suster Apung'.